Kamis, 13 Desember 2007

Refleksi Matahari Senja
Oleh : Awang Darmawan*


Aku belum tahu apa hakikat keMahasiswaan
yang sebenarnya!
Aku baru tahu itu menurut Teman, Senior,
Bu Lina,...menurut yang lainnya!
Terus terang aku belum puas.
Yang kucari belum kutemukan.
Mahasiswa dalam makna sejatinya,
Mahasiswa yang sesuai dengan khittah perjuangannya.
Akan kucari...Tapi orang-orang mengatakan bahwa hakikat keMahasiswaan yang kutemukan
adalah menurut aku Sendiri..
ah, biarlah
yang penting kuat dalam keyakinanku bahwa hakikat keMahasiswaan yang kupahami adalah
hakikat yang sesungguhnya
Ya.., ku harus yakin.
(Awank)


Dua alasan mengapa tulisan ini ada Pertama, tulisan ini hadir sebagai refleksi kritis terhadap prosesi penerimaan mahasiswa baru di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jurusan Fisika Universitas Muhammadiyah Makassar yang baru saja usai sekaligus kado ucapan terima kasih kepada seluruh kakanda di HMJ Fisika yang diharapkan tulisan ini mampu memberikan konstribusi yang signifikan terhadap perubahan konstruk berfikir kanda senior kita di HMJ Fisika. Kedua, Tulisan ini meskipun tidak sistematis dan ditulis secara bebas -dan masih banyak kekurangan di dalamnya- tentu saja memiliki semangat dan mengandung pesan yang ingin dikomunikasikan pada siapa saja yang membacanya. Secara implisit pesan dalam tulisan ini sedikit-banyaknya memuat tentang keresahan dan kekhawatiran penulis terhadap realitas yang ada selama ini di lingkup kelembagaan mahasiswa terutama di HMJ Fisika sekaligus mengajak kawan-kawan agar turut reflektif dan mengevaluasi perjalanan kita di Universitas Muhammadiyah Makassar walaupun pengembaraan panjang baru saja kita mulai. Tidak lain dalam rangka mengusung perbaikan dan pembenahan secara produktif dengan didasari pada kerangka komitmen kita sebagai seorang mahasiswa yang senantiasa diharapkan mampu melakukan rekonstruksi terhadap realitas yang ada. Oleh karena itu, sudah menjadi keharusan pada saat ini agar seluruh kakanda senior maupun teman-teman Mahasiswa Baru di Jurusan Fisika untuk membuka diri dan merenungkan apa yang sebenarnya menjadi hakikat keberMahasiswaan kita ketika menyandang predikat yang namanya Mahasiswa, tawwaa.. Penulis mengharapkan seluruh elemen mahasiswa Fisika mampu menyatukan persepsi, mengitegrasikan pemikiran, dan saling berelaborasi ide guna menyelami ragam persoalan yang menurut penulis sifatnya radikal.
Penulis memahami jika kita merunut secara menyeluruh persoalan demi persoalan di Himpunan Mahasiswa Jurusan Fisika akan hadir sederetan masalah yang kompleks dan saling korelasi antara satu dengan yang lainnya baik persoalan itu diterawang dari sisi internal maupun pada dimensi eksternal. Akan tetapi ada seperangkat masalah yang rupanya dapat disudahi dengan kreatifitas individu juga ada pula uraian masalah yang sesungguhnya harus disikapi secara kolektif-kelembagaan.

Perkaderan Mesti Transformatif
Pertama, problem internal yang turut andil menciptakan carut marut bagi gerakan mahasiswa hari ini adalah kurangnya proporsionalitas perkaderan yang dilakukan di setiap level tingkatan. Sedikit merefleksi ke belakang mencoba menelaah prosesi Bina Akrab yang dilakukan oleh kakanda kita di HMJ FISIKA yang berlangsung di Benteng Somba Opu-ternyata tak satupun indikator keberhasilan atau apa yang diinginkan bersama itu mampu tercapai. Jangankan kesadaran kritis yang harus dibangun sebagai pondasi awal dalam berlembaga bahkan pemahaman tentang materi yang disuguhkan pun belum tercapai. Juga disorientasi perkaderan sehingga tidak ada visi yang jelas, untuk apa perkaderan ini dilaksanakan. Hal ini tentu disebabkan oleh sistematika perkaderan yang dilakukan oleh kanda kita di HMJ adalah sistem pendidikan yang tidak memanusiakan manusia. Mengapa saya katakan demikian, karena indikator-indikator pendidikan yang partisipatif tak satupun direalisasikan. Warga belajar diambil hak-hak asasinya sehingga terkesan kanda senior menindas teman-teman MaBa, walaupun sebelumnya telah terbangun kesepakan untuk tidak melakukan kekerasan dan penindasan. Tapi, hemat saya itu adalah sebuah penindasan yang berkedok sistem-apalagi berapologi, atau bisa dikatakan menjustifikasi-untuk membiasakan diri teman-teman Maba mengalami hal yang serupa. Ditambah dengan suasana pembelajaran yang tidak partisipatif, nyaman, dan menyenangkan sehingga efektifitas yang diharapkan dalam pencapaian pemahaman materi tidak tercapai. Senior !, zaman telah berubah dan kedewasaan pun bertambah, saatnya kita menyudahi sistem pendidikan yang bersifat menindas dan tidak mendidik. Sudah saatnya kita membimbing pikiran dengan kekuatan kebenaran bukan membelenggunya dengan kekerasan. Merubahnya dari sistem pendidikan andragogy menjadi sistem pendidikan paedagogy dengan prinsip partisipatory learningnya.
Memilukan memang, apalagi fenomena ini dirasakan hampir di seluruh himpunan mahasiswa. Jika hal ini terus berlanjut, maka jangan harap ke depan akan lahir Che Guevara Muda yang mampu melawan arus ”tsunami” kapitalisme global, yang mampu bernas ketika yang tua mulai tersesat dan tenggelam dalam budaya pragmatis. Namun harus disadari kalau persoalan ini tidak dipicu oleh satu faktor an sich tetapi multisebab. Saatnya mungkin untuk kita merenung diri, apakah sistem yang selama ini dilakukan sudah mampu melahirkan kesadaran kritis dalam diri kita semua? Apakah semua yang kita lakukan telah memberikan hasil yang diinginkan? Kalau kita belum mampu memberikan sentuhan makna dan menciptakan atmosfir ideologis atau kondisi sesuai dengan harapan dan kebutuhan yang diharapkan maka tidak ada alasan untuk defensif, berapologi, mempertahankan ”kultur” yang ada. Apalagi berpindah alih menyalahkan teman-teman kita yang kritis melihat ketimpangan yang ada.

Kedewasaan Berlembaga
Kedua, nampaknya mulai detik ini kita mesti inklusif dan merefleksikan diri berusaha serta terus belajar terutama kedewasaan dalam mengawal lembaga keMahasiswaan yang kita cintai bersama. Masih jelas di benak saya ketika ketidakdewasaan berlembaga itu ditunjukkan oleh salah seorang senior kita ketika menerima kritikan dari seorang Maba. Hal itu sebenarnya tidak perlu dilakukan karena jelas akan berdampak negatif terutama dapat membunuh karakter sang Maba. Padahal sebenarnya, kritikan itu lumrah adanya yang penting hal itu bersifat konstruktif. Mahasiswa Baru ini bukanlah orang yang berjalan di tengah kegelapan malam jadi sudah menjadi sunnatullah jika mereka mencoba mencari kebenaran yang diinginkan. Olehnya, sebagai seorang mahasiswa yang peduli terhadap kondisi sudah saatnya mungkin kita merefleksi dan berbenah diri. Benarkah HMJ kita selama ini telah menjadi tenda besar yang sanggup mengakomodir gejolak dan kecenderungan nilai serta kreatifitas kejiwaan dari teman-teman yang notabene berasal dari daerah yang berbeda yang tentu membawa ragam corak yang berbeda pula?

Nasib ”The Agent of Change”
Ketiga, Cita-cita untuk memerankan ”The Agent of Change” dan ”Sosial Control” yang dilandasi dengan kesadaran kritis sebagai ikon paradigmatik gerakan mahasiswa menemui kebuntuan dalam praksis gerakannya. Rupanya kita harus mengakui bahwa ideologi yang telah terbangun dengan kerangka konseptualnya belum dapat membuana secara massif. Sehingga banyak diantara kita tak tahu menahu tentang peran sosial seorang mahasiswa. Tentu hal ini berimplikasi pada kekakuan menafsir ketimpangan yang dialami oleh bangsa kita saat ini. Sangat terasa kalau keberMahasiswaan kita akhir-akhir ini masih terjebak oleh kecenderungan simbolis namun gagal memberi sentuhan idiologis terhadap aktivisme berlembaga yang menyebabkan para mahasiswa hanya bisa menjadi ”EO” saja tanpa pernah mau menjalankan peran sosialnya sebagai elemen pembaharu.
Bukan apa, diskursus tentang hal tersebut memang masih belum diterjemahkan secara intensif, justru menjadi barang mahal dan tidak populis. Olehnya, konsepsi ideologis seorang Mahasiswa secepatnya harus diobral dengan cara dan jalan apapun agar dapat dipahami, terinternalisasi kemudian diolah-terjemahkan dalam praksis gerakan terutama di setiap event-event perkaderan, supaya hal ini tidak lagi sekedar jargon “gagah-gagahan” yang di publikasikan lewat spanduk-spanduk kegiatan dan enteng diucapkan ketika berdemonstrasi tanpa memahami substansi yang tersirat.

Ada yang hilang dari Mahasiswa..!
Keempat, akhir-akhir ini mahasiswa sepertinya kehilangan semangat dan konsistensi dalam menggiatkan tradisi keilmuan dan ragam aktivitas lain yang bernilai konstruktif. Sangat terasa kalau belakangan ini sebagian besar mahasiswa sudah semakin jauh dari kebiasaan membaca apalagi menyisihkan waktu untuk menulis. Aktivitas kajian, diskusi dan pengajian pun tidak lagi dipandang sebagai proses yang berharga. Pertanyaannya kemudian adalah mengapa penghargaan kita terhadap ilmu pengetahuan semakin memudar? Mengapa kita lebih senang berimajinasi daripada beraksi? Mengapa semangat kita untuk memproduksi terganti dengan kebiasaan mengkomsumsi? Mengapa kita lebih senang mengimitasi daripada berkreasi? Mengapa kita lebih mau mendengar daripada berbicara? Ada apa sesungguhnya dengan kita semua? Mengapa kita seolah semakin pelit berpikir tentang Kemajuan Gerakan Mahasiswa? Mengapa kita terlalu kikir menyisihkan beberapa rupiah hanya untuk membeli buku? Mengapa kita ogah menyisihkan waktu tenaga dan pikiran kita beberapa jam untuk membaca atau bahkan menulis? Mengapa masih banyak diantara kita yang memaknai bahwa tugas mahasiswa hanya bolak balik kampus dan menyelesaikan tugas yang diberikan dosen an sich?
Saya yakin, kita adalah orang-orang yang masih sehat dan waras, makanya jangan sekali-kali lupa atau sok tidak ingat bahwa pada hakikatnya kita akan kembali berbaur dengan realitas masyarakat di sekitar kita yang nantinya masyarakat akan menanti konstribusi kita dalam melakukan perubahan. Kita harus yakin bahwa berjuang demi orang banyak adalah kemuliaan!. Ingat, mahasiswa memiliki kewajiban menerjemahkan pengetahuan teoretis yang mereka peroleh di universitas, ke dalam kritik-kritik yang radikal terhadap keadaan masyarakat sekarang dan tentunya relevan dengan mayoritas penduduk. Oleh karena itu, janganlah kita pura-pura menutup mata dan sok tidak merasakan ketimpangan yang ada. Atau bahkan tidak mau peduli dengan urusan pemerintahan yang semakin hari semakin bobrok dan berkata; ”itu bukan urusan kita!”, ”biarkan mereka menikmatinya”, dan lain sebagainya.
Nampaknya tidak ada pilihan lain untuk tidak melakukan perubahan yang progresif mengenai konstruk berfikir dalam diri kita agar pergerakan mahasiswa tetap eksis dan menyejarah dalam pergulatan zaman. Ya, progresifitas yang saya maksud adalah suatu gerakan produktif yang tak berhenti untuk berkarya, gerakan yang terus bergulat, menalar dan berdialektika dengan realitas. Yang selalu dalam keadaan resah, tidak puas dengan yang ada, senantiasa menggali hal yang lebih benar atas kebenaran yang sudah tersedia.
Manakala kita telah berhenti mencari dan bertanya, sudah puas dengan apa yang telah ada, tidak mengkritik terhadap kebekuan yang mentradisi, telah berhenti gelisah dan resah, sudah tidak ada lagi gejolak juga pergolakan wacana ditubuhnya, tak ada lagi benturan ide dan konflik yang bermain didalamnya. Maka yakin, pergerakan kita telah berhenti menjadi gerakan progresif.
Semoga cinta dan ridho Allah SWT hanya diperuntukkan bagi hamba-hambanya yang senantiasa rindu perubahan “ Semoga !!!”.

Nuun Wal Qolami Wa Maa Yasthuruun
Nuun, demi pena dan segala yang dituliskannya

Nuruda’wah Muhammadiyah, 29 Oktober 2007
*) Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Pend. Fisika
Universitas Muhammadiyah Makassar Angkatan 2007